Kamis, 16 Januari 2014

Pengertian serta proses terjadinya Tsunami dan Gempa

Apa Itu Tsunami?
Kata “Tsunami” sendiri berasal dari bahasa Jepang yang berarti Ombak Besar (Tsu : pelabuhan dan Nami : gelombang). Adapan definisi yang disepakati banyak orang adalah tsunami merupakan bencana alam yang disebabkan oleh naiknya gelombang laut ke daratan dengan kecepatan yang tinggi akibat adanya gempa yang berpusat di bawah lautan. Gempa tersebut bisa saja diakibatkan oleh tanah yang longsor, lempeng yang bergeser, gunung berapi yang mengalami erupsi serta meteor yang jatuh di lautan. Tsunami ini biasanya terjadi apabila besarnya gempa melebihi 7 skala richter. Tsunami ini cukup berbahaya, utamanya bagi mereka yang bermukim di sekitaran pantai. Dengan kekuatan besar, ia akan menyapu apa saja yang dilewatinya.
Proses Terjadinya Tsunami

Jika berbicara mengenai proses terjadinya tsunami, maka kita tentu harus memulai dari penyebabnya, yakni gempa di wilayah lautan. Tsunami selalu diawali suatu pergerakan dahsyat yang lazim kita sebut gempa. Meski diketahui bahwa gempa ini ada beragam jenis, namun 90% tsunami disebabkan oleh pergerakan lempeng di dalam perut bumi yang letaknya kebetulan ada di dalam wilayah lautan. Akan tetapi perlu juga disebutkan, sejarah pernah merekam tsunami yang dahsyat akibat meletusnya Gunung Krakatau.

Gempa yang terjadi di dalam perut bumi akan mengakibatkan munculnya tekanan ke arah vertical sehingga dasar lautan akan naik dan turun dalam rentang waktu yang singkat. Hal ini kemudian akan memicu ketidakseimbangan pada air lautan yang kemudian terdorong menjadi gelombang besar yang bergerak mencapai wilayah daratan.

Dengan tenaga yang besar yang ada pada gelombang air tersebut, wajar saja jika bangunan di daratan bisa tersapu dengan mudahnya. Gelombang tsunami ini merambat dengan kecepatan yang tak terbayangkan. Ia bisa mencapai 500 sampai 1000 kilometer per jam di lautan. Dan saat mencapai bibir pantai, kecepatannya berkurang menjadi 50 sampai 30 kilometer per jam. Meski berkurang pesat, namun kecepatan tersebut sudah bisa menyebabkan kerusakan yang parah bagi manusia.

Jika kita mencermati proses terjadinya tsunami, tentu kita paham bahwa tak ada campur tangan manusia di dalamnya. Dengan demikian, kita tak memiliki kendali untuk mencegah penyebab tersebut. Namun, dengan persiapan dan kewaspadaan yang maksimal, kita bisa meminimalisir dampak bencana tsunami ini sendiri. Contoh yang baik sudah diperlihatkan Jepang. Meski rawan tsunami, namun kesadaran rakyatnya mampu menekan jumlah korban akibat bencana tersebut.

Apa itu Banjir?

Banjir adalah peristiwa terjadinya genangan pada daerah yang biasanya kering (Himpunan Ahli Teknik, 1984). Banjir merupakan kejadian hidrologis yang dicirikan dengan debit dan/atau muka air yang tinggi dan dapat menyebabkan penggenangan pada lahan di sekitar sungai, danau, atau sistem air (water body) lainnya. Banjir biasanya terjadi karena sungai atau saluran tidak mampu mengalirkan sejumlah air hujan yang mengalir di atas permukaan (surface run off). Aliran permukaan dari semua arah dan dari semua tempat menuju buangan alami dalam bentuk sungai atau saluran.
Aliran permukaan dari segenap lokasi dalam kawasan DAS (Daerah Aliran Sungai) akan mengalir ke sungai. Pertambahan aliran permukaan sama artinya menambah beban sungai. Padahal suatu sungai mempunyai kapasitas tampung atau kemampuan mengalirkan air dalam jumlah (debit) tertentu. Pada saat batas maksimum kemampuan sungai mengalirkan air terlampaui, maka sungai akan meluap dan terjadilah banjir. Di samping air, aliran permukaan juga membawa material hasil erosi yang bergerak bersama aliran permukaan dan akan terendapkan pada wilayah yang relatif datar. Oleh karena itu, pada badan sungai di daerah landai, seringkali dijumpai bar, yaitu suatu daratan di tengah atau pinggir sungai yang terbentuk akibat pengendapan (sedimentasi) material yang terbawa arus sungai. Sedimentasi mengakibatkan badan sungai jadi sempit, dangkal, lebih landai, dan mengurangi kecepatan aliran. Dengan kata lain, sedimentasi akan menurunkan kapasitas sungai.
Ketidakmampuan sungai atau saluran untuk mengalirkan air dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
Ø  Aliran air terlampau banyak
Ø  Bentuk dan ukuran saluran yang tidak memadai untuk mengalirkan air, misalnya sungai berkelok, dimensinya dangkal dan sempit,
Ø  Kemiringan saluran landai atau bahkan ada saluran yang bagian hilirnya lebih tinggi daripada daerah hulunya
Ø  Hambatan aliran, seperti disebabkan oleh sampah dan pertumbuhan vegetasi di sungai dan saluran yang tidak terkendali

Faktor-faktor tersebut tidak berdiri sendiri, satu faktor terkait dengan faktor lainnya. Aliran air yang terlampau banyak, misalnya, dapat diakibatkan oleh hujan yang deras (intensitas hujan tinggi) dalam waktu yang lama, daya resap tanah yang kecil, kerapatan vegetasi (tumbuh-tumbuhan), lahan yang curam, dan lain-lain. Banjir juga dapat berkaitan dengan peristiwa kegagalan bendung atau tanggul, gempa bumi, tanah longsor, air pasang tinggi, ketidaksempurnaan pengoperasian dan pengendalian ssstem air. Dipihak lain, manusia tumbuh dan berkembang dari tahun ke tahun. Perkembangan penduduk ini akan berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dasar manusia, seperti: sandang (pakaian), pangan (makanan dan minuman), dan papan (perumahan). Upaya pemenuhan kebutuhan primer manusia ini akan berdampak pada perubahan fungsi lahan. Perubahan fungsi ini, umumnya cenderung tidak memperhatikan kondisi dan kaidah lingkungan.

Lahan dengan berbagai macam penggunaan dan sifatnya, mampu menampung dan meresapkan air hujan. Hutan, perkebunan, lahan pertanian yang baik, sawah, danau dan kolam merupakan macam penggunaan lahan yang sangat baik untuk mengendalikan limpasan.hujan. Namun akibat kebutuhan manusia, semua macam penggunaan lahan tersebut cenderung mengalami pengurangan luas akibat konversi (perubahan penggunaan lahan). Begitu luas, lahan hutan yang menjadi lahan kritis akibat konversi menjadi pertanian tanpa mengindahkan kelestarian lingkungan. Begitu banyak lahan sawah, danau dan kolam yang berubah menjadi lahan pemukiman. Demikian pula, berapa ribu bahkan juta hektar lahan pertanian produktif berubah menjadi lahan pertanian kritis, lahan pemukiman, dan lahan industri. Dalam kurun waktu 7 tahun, antara tahun 1994 sampai dengan tahun 2001, di Jawa Barat terdapat pengurangan luas hutan primer sekitar 106.851 Ha; hutan sekunder 130.589 Ha, dan sawah 165.903 ha (Rohmat, 2009). Perubahan penggunaan lahan ini mempengaruhi kemampuan lahan untuk menampung dan meresapkan air, sehingga menimbulkan pertambahan aliran permukaan.